TUGAS
MAKALAH
SUMBER KONFLIK
SOSIAL
D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
KELOMPOK 5
JUSRAN
JUFRI
NURJANNAH
UNIKASARI
YUSRINA
TRISNAWATI
B.
HASMA
DEWIANTI
SMK
KESEHATAN PERSADA WAJO
T.A
2012.2013
PENGERTIAN TEORI KONFLIK SOSIAL
T eori konflik yang muneul pada abad ke 18 dan
19 dapat dimengerti sebagai respon dari lahimya dual revolution, yaitu demokratisasi dan
industrialisasi.
Konflik adalah fenomena sosial dan ia
merupakan kenyataan bagi masyarakat (ang terlibat di dalamnya. Artinya
masyarakat menyadan dan merasakan bahwa konflik tu muneul dalam dalam dunia
sehan-han. Konfllik juga sebagai suatu proses sosial, )roses perubahan dari
tatanan sosial yang lama ke tatanan sosial yang berbeda. <onflik antar
komunitas dalam masyarakat didefinisikan sebagai suatu kondisi wajar etapi bila
sudah melibatkan kekerasan kewajaran konflik menjadi tidak lagi. Konflik
)ersifat inheren dalam kesadaran masyarakat sehingga selalu ada gambaran yang
lyata tentang fenomena tersebut. Bahkan masyarakat menyimpan pengalaman entang
konflik sebagai pengetahuan dan realitas sosial mereka.
Ø PENGERTIAN KONFLIK SOSIAL
Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan sesama
manusia. Ketika berinteraksi dengan sesama manusia, selalu diwarnai dua hal,
yaitu konflik dan kerjasama. Dengan demikian konflik merupakan bagian dari
kehidupan manusia.
Konflik berasal dari kata kerja Latin
configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan
sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok)
dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan
menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik, dalam kamus besar
Bahasa Indonesia (2002) diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, dan
pertentangan. Menurut Kartono & Gulo (1987), konflik berarti
ketidaksepakatan dalam satu pendapat emosi dan tindakan dengan orang lain.
Keadaan mental merupakan hasil impuls-impuls, hasrat-hasrat,
keinginan-keinginan dan sebagainya yang saling bertentangan, namun bekerja
dalam saat yang bersamaan. Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu
bentuk perbedaan atau pertentangan ide, pendapat, faham dan kepentingan di
antara dua pihak atau lebih. Pertentangan ini bisa berbentuk pertentangan fisik
dan non-fisik, yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi
benturan fisik, yang bisa berkadar tinggi dalam bentuk kekerasan (violent),
bisa juga berkadar rendah yang tidak menggunakan kekerasan (non-violent).
Gambar 6.1 menjelaskan tentang perilaku manusia yang muncul akibat dari
perbedaan pendapat. Demonstrasi yang dilakukan untuk menentang kebijakan negara
adalah salah satu bentuk perbedaan pendapat dan kepentingan antara kelompok
masyarakat dengan negara atau dengan kelompok lainnya. Fenomena ini termasuk
dalam kategori konflik, walaupun tidak mengarah kepada pertentangan fisik.
Konflik juga dimaknai sebagai suatu proses yang mulai bila satu pihak merasakan
bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, atau akan segera
mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang diperhatikan oleh pihak pertama.
Suatu ketidakcocokan belum bisa dikatakan sebagai suatu konflik bilamana salah
satu pihak tidak memahami adanya ketidakcocokan tersebut (Robbins, 1996). Tidak
satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau
dengan kKarena konflik merupakan bagian kehidupan sosial, maka dapat dikatakan
konflik sosial merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar.
Ø Dahrendorf (1986), membuat 4
postulat yang menunjukkan keniscayaan itu, yaitu:
(1)
setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan, perubahan sosial terdapat di
manamana;
(2)
setiap masyarakat memperlihatkan konflik dan pertentangan, konflik terdapat di
mana-mana;
(3) setiap unsur dalam masyarakat memeberikan
kontribusi terhadap desintegrasi dan perubahan; (4) setiap masyarakat dicirikan
oleh adanya penguasaan sejumlah kecil orang terhadap sejumlah besar lainnya.
Coser (1956) mengutip hasil pengamatan Simmel, menunjukkan bahwa konflik
mungkin positif sebab dapat meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu
kelompok dengan memantapkan keutuhan dan keseimbangaelompok masyarakat lainnya.
Ø Cobb dan Elder (1972)
mengungkapkan adanya tiga dimensi penting dalam konflik politik:
(1)
luas konflik;
Luas konflik, menunjuk pada
jumlah perorangan atau kelompok yang terlibat dalam konflik, dan menunjuk pula
pada skala konflik yang terjadi (misalnya: konflik lokal, konflik etnis,
konflik nasional, konflik internasional, konflik agama dan sebagainya
(2)
intensitas konflik; dan
Intensitas konflik adalah
luas-sempitnya komitmen sosial yang bisa terbangun akibat sebuah konflik.
Konflik yang intensitasnya tinggi adalah konflik yang bisa membangun komitmen
sosial yang luas, sehingga luas konflikpun mengembang
(3)
ketampakan konflik.
Adapun ketampakan konflik
adalah tingkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat di luar pihak-pihak yang
berkonflik tentang peristiwa konflik yang terjadi.
Sebuah konflik dikatakan memiliki ketampakan
yang tinggi manakala peristiwa konflik itu disadari dan diketahui detail
keberadaannya oleh masyarakat secara luas. Sebaliknya, sebuah konflik memiliki
ketampakan rendah manakala konflik itu terselimuti oleh berbagai hal sehingga
tingkat kesadaran dan pengetahuan masyarakat luas terhadap konflik itu sangat terbatas.
Pandangan tradisional tentang konflik mengandaikan konflik itu buruk, dipandang
secara negatif, dan disinonimkan dengan istilah kekerasan (violence),
destruksi, dan ketidakrasionalan demi memperkuat konotasi negatifnya. Konflik
adalah merugikan, oleh karena itu harus dihindari (Robbins, 1996). Pandangan
pada masa kini melihat konflik merupakan peristiwa yang wajar dalam kehidupan
kelompok dan organisasi
Ø Menurut Anoraga (dalam
Saputro, 2003) suatu konflik dapat terjadi karena perbendaan pendapat, salah
paham, ada pihak yang dirugikan, dan perasaan sensitif.
1. Perbedaan pendapat
Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat dimana masing-masing pihak merasa dirinya benar, tidak ada yang mau
mengakui kesalahan, dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka dapat menimbulkan rasa kurang enak, ketegangan dan sebagainya.
2. Salah paham
Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya baik tetapi diterima sebaliknya oleh individu yang lain.
3. Ada pihak yang dirugikan
Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga seseorang yang dirugikan merasa kurang enak, kurang senang atau bahkan membenci.
4. Perasaan sensitif
Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan tindakan orang lain. Contoh, mungkin tindakan seseorang wajar, tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan.
Sedangkan
Handoko (1998) menyatakan bahwa sumber-sumber konflik adalah sebagai berikut.
1. Komunikasi: salah pengertian yang berkenaan dengan kalimat, bahasa yang sulit dimengerti, atau informasi yang mendua dan tidak lengkap, serta gaya individu manajer yang tidak konsisten.
1. Komunikasi: salah pengertian yang berkenaan dengan kalimat, bahasa yang sulit dimengerti, atau informasi yang mendua dan tidak lengkap, serta gaya individu manajer yang tidak konsisten.
2. Struktur: pertarungan kekuasaan antar departemen dengan kepentingan-kepentingan atau sistem penilaian yang bertentangan, persaingan untuk memperebutkan sumber-sumber daya yang terbatas, atau saling ketergantungan dua atau lebih kelompok-kelompok kegiatan kerja untuk mencapai tujuan mereka.
3. Pribadi: ketidaksesuaian tujuan atau nilai-nilai sosial pribadi karyawan dengan perilaku yang diperankan pada jabatan mereka,
dan perbedaan dalam nilai-nilai atau persepsi.
Ø Faktor Penyebab Konflik
a. Perbedaan individu
Perbedaan kepribadian antar individu bisa menjadi faktor penyebab terjadinya konflik, biasanya perbedaan individu yang menjadi sumber konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik, artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbedabeda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
b. Perbedaan latar belakang kebudayaan
Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
c. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan
yang berbeda.
d.
Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri.
Ø BENTUK KONFLIK SOSIAL
Sasse (1981) mengajukan istilah yang bersinonim maknanya dengan nama conflict style, yaitu cara orang bersikap ketika menghadapi pertentangan. Conflict style ini memiliki kaitan dengan kepribadian. Maka orang yang berbeda akan menggunakan conflict style yang berbeda pada saat mengalami konflik dengan orang lain. Sedangkan Rubin (dalam Farida, 1996) menyatakan bahwa konflik timbul dalam berbagai situasi sosial, baik terjadi dalam diri seseorang individu, antar individu, kelompok, organisasi maupun antar negara. Ada banyak kemungkinan menghadapi konflik yang dikenal dengan istilah manajemen konflik. Konflik yang terjadi pada manusia ada berbagai macam ragamnya, bentuknya, dan jenisnya.
Sasse (1981) mengajukan istilah yang bersinonim maknanya dengan nama conflict style, yaitu cara orang bersikap ketika menghadapi pertentangan. Conflict style ini memiliki kaitan dengan kepribadian. Maka orang yang berbeda akan menggunakan conflict style yang berbeda pada saat mengalami konflik dengan orang lain. Sedangkan Rubin (dalam Farida, 1996) menyatakan bahwa konflik timbul dalam berbagai situasi sosial, baik terjadi dalam diri seseorang individu, antar individu, kelompok, organisasi maupun antar negara. Ada banyak kemungkinan menghadapi konflik yang dikenal dengan istilah manajemen konflik. Konflik yang terjadi pada manusia ada berbagai macam ragamnya, bentuknya, dan jenisnya.
Ø Soetopo (1999)
mengklasifikasikan jenis konflik, dipandang dari segi materinya menjadi empat,
yaitu:
1. Konflik tujuan
Konflik tujuan terjadi jika ada dua tujuan atau yang kompetitif bahkan yang kontradiktif.
2. Konflik peranan
Konflik peranan timbul karena manusia memiliki lebih dari satu peranan dan tiap peranan tidak selalu memiliki kepentingan yang
sama.
3. Konflik nilai
Konflik nilai dapat muncul karena pada dasarnya nilai yang dimiliki setiap individu dalam organisasi tidak sama, sehingga konflik
dapat terjadi antar individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan organisasi.
4. Konflik kebijakan
Konflik kebijakan dapat terjadi karena ada ketidaksetujuan individu atau kelompok terhadap perbedaan kebijakan yang dikemuka- kan oleh satu pihak dan kebijakan lainnya
1. Konflik tujuan
Konflik tujuan terjadi jika ada dua tujuan atau yang kompetitif bahkan yang kontradiktif.
2. Konflik peranan
Konflik peranan timbul karena manusia memiliki lebih dari satu peranan dan tiap peranan tidak selalu memiliki kepentingan yang
sama.
3. Konflik nilai
Konflik nilai dapat muncul karena pada dasarnya nilai yang dimiliki setiap individu dalam organisasi tidak sama, sehingga konflik
dapat terjadi antar individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan organisasi.
4. Konflik kebijakan
Konflik kebijakan dapat terjadi karena ada ketidaksetujuan individu atau kelompok terhadap perbedaan kebijakan yang dikemuka- kan oleh satu pihak dan kebijakan lainnya
Ø konflik dibedakan menjadi 4
macam:
(1) konflik antara
atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam
keluarga atau profesi (konflik peran (role);
(2) konflik antara kelompok-kelompok sosial
(antar keluarga, antar gank);
(3) konflik
kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa); dan
(4) konflik antar satuan nasional (perang
saudara)
Ø PROSES KONFLIk
Menurut Robbins (1996) proses konflik terdiri
dari lima tahap, yaitu:
(1) oposisi atau
ketidakcocokan potensial;
(2) kognisi dan
personalisasi;
(3) maksud;
(4) perilaku; dan
(5) hasil
Oposisi atau ketidakcocokan potensial adalah
adanya kondisi yang mencipta-kan kesempatan untuk munculnya koinflik. Kondisi
ini tidak perlu langsung mengarah ke konflik, tetapi salah satu kondisi itu
perlu jika konflik itu harus muncul. Kondisi tersebut dikelompokkan dalam
kategori: komunikasi, struktur, dan variabel pribadi. Komunikasi yang buruk
merupakan alasan utama dari konflik, selain itu masalah-masalah dalam proses
komunikasi berperan dalam menghalangi kolaborasi dan merangsang kesalahpahaman.
Struktur juga bisa menjadi titik awal dari konflik.
Ø POLA PENYELESAIAN KONFLIK
Konflik dapat berpengaruh positif atau
negatif, dan selalu ada dalam kehidupan. Oleh karena itu konflik hendaknya
tidak serta merta harus ditiadakan. Persoalannya, bagaimana konflik itu bisa
dimanajemen sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan disintegrasi sosial.
Pengelolaan konflik berarti mengusahakan agar konflik berada pada level yang
optimal. Jika konflik menjadi terlalu besar dan mengarah pada akibat yang
buruk, maka konflik harus diselesaikan. Di sisi lain, jika konflik berada pada
level yang terlalu rendah, maka konflik harus dibangkitkan (Riggio, 1990).
Berbeda lagi dengan yang dinyatakan oleh Soetopo (1999) bahwa strategi
pengelolaan konflik menunjuk pada suatu aktivitas yang dimaksudkan untuk
mengelola konflik mulai dari perencanaan, evaluasi, dan pemecahan/penyelesaian
suatu konflik sehingga menjadi sesuatu yang positif bagi perubahan dan
pencapaian tujuan. Berdasarkan beberapa pendapat tentang pengelolaan konflik,
dapat ditegaskan bahwa pengelolaan konflik merupakan cara yang digunakan
individu dalam mengontrol, mengarahkan, dan menyelesaikan.
Hodge dan Anthony (1991), memberikan gambaran melalui
berbagai metode resolusi (penyelesaian) konflik, sebagai berikut:
Pertama, dengan metode penggunaan paksaan.
Orang sering menggunakan kekuasaan dan kewenangan agar konflik dapat diredam
atau dipadamkan.
Kedua, dengan
metode penghalusan (smoothing). Pihak-pihak yang berkonflik hendaknya saling
memahami konflik dengan bahasa kasihsayang, untuk memecahkan dan memulihkan
hubungan yang mengarah pada perdamaian.
Ketiga,
penyelesaian dengan cara demokratis. Artinya, memberikan peluang kepada
masing-masing pihak untuk mengemukakan pendapat dan memberikan keyakinan akan
kebenaran pendapatnya sehingga dapat diterima oleh kedua belah pihak
Ø . Macam-macam Pola
Pengelolaan Konflik
1. Bentuk kalah-kalah (menghindari konflik)
Bentuk pertama ini menjelaskan cara mengatasi konflik dengan menghindari konflik dan mengabaikan masalah yang timbul. Atau bisa berarti bahwa kedua belah pihak tidak sepakat untuk menyelesaikan konflik atau menemukan kesepakatan untuk mengatasi konflik tersebut.
2. Bentuk menang-kalah (persaingan)
Bentuk kedua ini memastikan bahwa satu pihak memenangkan konflik dan pihak lain kalah. Biasanya kekuasaan atau pengaruh digunakan untuk memastikan bahwa dalam konflik tersebut individu tersebut yang keluar sebagai pemenangnya. Gaya penyelesaian konflik seperti ini sangat tidak mengenakkan bagi pihak yang merasa terpaksa harus berada dalam posisi kalah.
3. Bentuk kalah-menang (mengakomodasi)
Agak berbeda dengan bentuk kedua, bentuk ketiga yaitu individu kalah-pihak lain menang ini berarti individu berada dalam posisi mengalah atau mengakomodasi kepentingan pihak lain. Gaya ini digunakan untuk menghindari kesulitan atau masalah yang lebih besar. Gaya ini juga merupakan upaya untuk mengurangi tingkat ketegangan akibat dari konflik tersebut atau menciptakan perdamaian yang diinginkan.
4. Bentuk menang-menang (kolaborasi)
Bentuk keempat ini disebut dengan gaya pengelolaan konflik kolaborasi atau bekerja sama. Tujuannya adalah mengatasi konflik dengan menciptakan penyelesaian melalui konsensus atau kesepakatan bersama yang mengikat semua pihak yang bertikai. Secara sederhana proses ini dapat dijelaskan bahwa masing masing pihak memahami dengan sepenuhnya keinginan atau tuntutan pihak lainnya dan berusaha dengan penuh komitmen untuk mencari titik temu kedua kepentingan tersebut (Prijosaksono dan Sembel, 2002). Berbeda dengan pendapat diatas, Hendricks (2001) mengemukaan lima gaya pengelolaan konflik yang diorientasikan dalam organisasi maupun perusahaan.
Bentuk pertama ini menjelaskan cara mengatasi konflik dengan menghindari konflik dan mengabaikan masalah yang timbul. Atau bisa berarti bahwa kedua belah pihak tidak sepakat untuk menyelesaikan konflik atau menemukan kesepakatan untuk mengatasi konflik tersebut.
2. Bentuk menang-kalah (persaingan)
Bentuk kedua ini memastikan bahwa satu pihak memenangkan konflik dan pihak lain kalah. Biasanya kekuasaan atau pengaruh digunakan untuk memastikan bahwa dalam konflik tersebut individu tersebut yang keluar sebagai pemenangnya. Gaya penyelesaian konflik seperti ini sangat tidak mengenakkan bagi pihak yang merasa terpaksa harus berada dalam posisi kalah.
3. Bentuk kalah-menang (mengakomodasi)
Agak berbeda dengan bentuk kedua, bentuk ketiga yaitu individu kalah-pihak lain menang ini berarti individu berada dalam posisi mengalah atau mengakomodasi kepentingan pihak lain. Gaya ini digunakan untuk menghindari kesulitan atau masalah yang lebih besar. Gaya ini juga merupakan upaya untuk mengurangi tingkat ketegangan akibat dari konflik tersebut atau menciptakan perdamaian yang diinginkan.
4. Bentuk menang-menang (kolaborasi)
Bentuk keempat ini disebut dengan gaya pengelolaan konflik kolaborasi atau bekerja sama. Tujuannya adalah mengatasi konflik dengan menciptakan penyelesaian melalui konsensus atau kesepakatan bersama yang mengikat semua pihak yang bertikai. Secara sederhana proses ini dapat dijelaskan bahwa masing masing pihak memahami dengan sepenuhnya keinginan atau tuntutan pihak lainnya dan berusaha dengan penuh komitmen untuk mencari titik temu kedua kepentingan tersebut (Prijosaksono dan Sembel, 2002). Berbeda dengan pendapat diatas, Hendricks (2001) mengemukaan lima gaya pengelolaan konflik yang diorientasikan dalam organisasi maupun perusahaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar